LMID Genap 26 Tahun, Sejarah Perlawanan Mahasiswa Gorontalo yang Tak Pernah Padam

- Wartawan

Minggu, 13 Juli 2025 - 00:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : LMID Genap 26 Tahun, Sejarah Perlawanan Mahasiswa Gorontalo

Foto : LMID Genap 26 Tahun, Sejarah Perlawanan Mahasiswa Gorontalo

Zonaaktual.id – Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) memasuki usia ke-26 pada Juli 2025.

Organisasi mahasiswa yang lahir dari rahim perlawanan terhadap rezim Orde Baru ini, terus menjaga bara perjuangan di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

LMID bukan sekadar forum diskusi atau wadah aktivisme kampus. Organisasi ini telah menjelma menjadi simbol gerakan sosial-politik yang konsisten membela hak-hak rakyat kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan ideologi demokrasi rakyat sebagai pijakan utama, LMID menempatkan dirinya di garis depan perjuangan kaum tertindas.

Lahir dari Semangat Reformasi

LMID didirikan pada 9–11 Juli 1999 di Bogor, saat gelombang reformasi membuka ruang demokrasi baru bagi rakyat Indonesia.

Awalnya bernama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), organisasi ini hadir sebagai respons atas kekosongan wadah mahasiswa yang ideologis dan terorganisir.

Melalui perjalanan panjang, termasuk perubahan nama menjadi LMND-DN dalam Kongres IX di Gorontalo (2019), organisasi ini kemudian resmi mengubah identitas menjadi LMID pada Kongres X di Bogor tahun 2022.

Perubahan ini bukan sekadar kosmetik, tapi mencerminkan semangat baru dalam memperluas basis gerakan di akar rumput.

LMID menegaskan diri sebagai organisasi kader. Tujuannya jelas: menciptakan generasi muda revolusioner yang siap memperjuangkan demokrasi sejati, bukan demokrasi prosedural semata.

Jejak Perlawanan di Gorontalo

Di Provinsi Gorontalo, LMID dikenal sebagai organisasi mahasiswa yang progresif dan vokal.

Sejak awal, mereka memilih berdiri bersama petani, buruh, dan rakyat miskin kota dalam berbagai konflik agraria dan kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.

Nama-nama seperti Harmina (2014–2016), Alyan Abdari (2016–2017), hingga Abdul Rahman Halid (2017–2019), Hidayat Musa (2019–2022), Hadrian Abdjul (2022–2024), dan Khalifah Ridho Harun Arasyid (2025–2027) menjadi bagian dari sejarah panjang organisasi ini di Gorontalo.

Masa kepemimpinan Abdul Rahman Halid, misalnya, menjadi saksi bisu dua peristiwa penting: konflik lahan di Desa Pilohayanga (2017) dan Desa Bionga (2018).

Luka dan Keteguhan di Pilohayanga

Tahun 2017, konflik lahan meletus di Desa Pilohayanga, Kecamatan Talaga.

Warga menolak pembebasan lahan untuk proyek Jalan GORR karena ganti rugi dinilai tak sepadan.

LMND saat itu turun langsung, membentuk organisasi massa rakyat, dan mendapat dukungan penuh dari petani setempat.

Ketika alat berat hendak masuk, warga bersama LMND melakukan aksi hadang. Pemerintah membalas dengan penggusuran paksa. Aparat merespons aksi damai itu dengan represif.

Seorang kader ditembak peluru karet, beberapa lainnya ditangkap dan mengalami kekerasan.

Namun, solidaritas justru membesar. Mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan. Perlawanan ini bukan hanya menolak penggusuran, tapi juga mempertahankan martabat dan hak rakyat kecil atas tanah.

Sengketa Bionga yang Membekas

Setahun setelahnya, kasus serupa terjadi di Desa Bionga. Kali ini, LMND kembali berada di garis depan.

Mereka tak hanya turun aksi, tapi juga menggelar diskusi hukum dan agraria, mengorganisir warga, dan membangun kesadaran kolektif.

Namun balasannya sama: kekerasan dan penangkapan. Beberapa kader mengalami trauma hingga kini.

Tapi semangat itu tidak surut. Justru tumbuh keyakinan bahwa perjuangan mahasiswa sejati ada di tengah rakyat, bukan hanya di ruang kuliah.

Perlawanan Terhadap Omnibus Law

Di masa Hidayat Musa (2019–2022), LMID memimpin aksi besar menolak UU Cipta Kerja dan Omnibus Law. Ribuan mahasiswa di Gorontalo turun ke jalan.

Kota sempat lumpuh. Tapi di balik semangat itu, banyak yang mengalami penangkapan dan intimidasi.

Hidayat Musa bahkan sempat dikejar aparat dan mengalami tekanan psikologis. Tapi LMID tidak mundur. Bagi mereka, itu adalah harga dari perjuangan yang benar.

Konsistensi di Era Khalifah Ridho

Di bawah Ketua LMID Gorontalo saat ini, Khalifah Ridho Harun Arasyid, organisasi ini menegaskan komitmennya.

Ia menyatakan LMID akan tetap bersama rakyat kecil, khususnya di sektor agraria, buruh, pendidikan, dan layanan dasar.

“Kami ingin LMID bukan hanya suara kampus, tapi juga suara rakyat di sawah, pabrik, dan jalanan. Kami belajar dari masa lalu dan siap berjuang lebih keras untuk masa depan yang adil,” tegas Khalifah.

Ia menyebutkan rencana LMID membentuk sekolah ideologi rakyat dan pusat advokasi hukum untuk petani dan buruh.

Bagi LMID, perjuangan bukan seremoni, tapi jalan panjang menuju keadilan sosial sejati.

“Demokrasi sejati hanya lahir dari keterlibatan aktif rakyat dalam menentukan nasibnya. LMID tidak dibangun untuk ikut arus kekuasaan. Kami dibangun untuk mengguncang kesewenangan,” ujarnya.

Api yang Tak Pernah Padam

Dari Pilohayanga ke Bionga, dari kampus ke jalanan, LMID mencatat jejak panjang perjuangan.

Bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa, tapi sebagai kekuatan moral yang tak tergoyahkan.

Kini di usia 26 tahun, LMID tetap berdiri sebagai simbol keberanian dan konsistensi mahasiswa dalam membela rakyat.

Luka dan trauma yang pernah mereka alami tidak membuat gentar. Justru memperkuat tekad.

Perjalanan masih panjang. Tapi satu hal yang pasti: semangat perlawanan itu belum padam. Dan LMID akan terus menyalakannya. (*)

Follow WhatsApp Channel zonaaktual.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Minggu, 13 Juli 2025 - 00:14 WITA

LMID Genap 26 Tahun, Sejarah Perlawanan Mahasiswa Gorontalo yang Tak Pernah Padam

ZONA UPDATE

Foto : Istimewa

SMP 2 Tilamuta

HUT ke-21 SMPN 2 Tilamuta Jadi Panggung Nostalgia dan Persatuan Alumni

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:07 WITA