Zonaaktual.id, Kesehatan – Kesehatan mental kini menjadi perhatian serius di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tingginya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, serta pengaruh media sosial semakin meningkatkan angka kasus gangguan mental, seperti stres, kecemasan, hingga depresi.
Sayangnya, banyak orang yang masih mengabaikan kesehatan mental mereka, bahkan enggan mencari bantuan karena stigma yang masih melekat di masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 20% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental ringan hingga berat.
Kondisi ini semakin diperburuk dengan minimnya akses terhadap layanan kesehatan mental, terutama di daerah terpencil.
Salah satu contoh kasus yang menarik perhatian adalah kisah Santi Hasan (25), seorang karyawan swasta di Kota Gorontalo yang mengalami burnout akibat tekanan pekerjaan.
Santi mengaku sering mengalami kecemasan berlebihan, sulit tidur, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
“Sangar susah untuk tidur, apalagi kalau lagi banyak masalah,” ceritanya.
Awalnya, ia mengabaikan gejala tersebut, tetapi lama-kelamaan kondisi mentalnya memburuk hingga mempengaruhi pekerjaannya.
Setelah berkonsultasi dengan seorang psikolog, Santi didiagnosis mengalami gangguan kecemasan.
Dokter menyarankan beberapa metode penanganan, seperti terapi kognitif-perilaku (CBT) untuk mengatasi pikiran negatif dan meningkatkan keterampilan mengelola stres.
Selain itu, ia juga diberikan latihan pernapasan dan meditasi untuk membantu menenangkan pikiran.
Menurut Dr. Dharmawan Ardi Putra, seorang psikiater terkenal di Indonesia, kesehatan mental harus ditangani dengan serius, sama seperti penyakit fisik.
“Ketika seseorang mengalami gejala gangguan mental seperti kecemasan berlebihan, depresi, atau bahkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri, mereka harus segera mencari bantuan profesional. Terapi psikologis, dukungan sosial, serta dalam beberapa kasus, obat-obatan dapat menjadi solusi yang efektif,” ujarnya.
Selain itu, Dr. Siti Khalifah, seorang psikolog klinis, menekankan pentingnya membangun kebiasaan sehat untuk menjaga kesehatan mental.
“Aktivitas fisik seperti olahraga, menjaga pola tidur yang baik, serta membatasi penggunaan media sosial dapat membantu mengurangi stres. Tidak perlu menunggu sampai kondisi memburuk untuk mulai peduli terhadap kesehatan mental,” tambahnya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan organisasi kesehatan dalam meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental.
Salah satunya adalah program “Sehat Jiwa Bersama” yang menyediakan layanan konseling gratis bagi masyarakat.
Selain itu, beberapa rumah sakit kini memiliki layanan tele konsultasi dengan psikolog dan psikiater, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan bantuan tanpa harus datang langsung ke rumah sakit.
Di tingkat individu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, antara lain:
- Melakukan aktivitas fisik secara rutin, seperti olahraga ringan atau jalan santai.
- Menjaga pola tidur yang baik dengan tidur cukup 7-9 jam per malam.
- Mengurangi konsumsi berita atau media sosial yang berlebihan, yang dapat memicu kecemasan.
- Bercerita kepada orang terdekat saat merasa stres atau tertekan.
- Mencari bantuan profesional jika merasa sulit mengatasi tekanan sendiri.
Masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental dan tidak ragu untuk mencari bantuan ketika mengalami tekanan emosional yang berat.
Dengan meningkatnya pemahaman dan ketersediaan layanan kesehatan mental, diharapkan angka gangguan mental dapat ditekan, dan setiap individu dapat menjalani hidup yang lebih sehat secara fisik maupun mental. (*)
Reporter: Alan








