Zonaaktual.id, Boalemo – Di bawah cahaya lampu seadanya, suara sekop dan gesekan pasir memecah sunyi malam di Desa Buti, Kecamatan Mananggu.
Sejumlah pemuda tampak masih bertahan di halaman Masjid Al-Ikhlas, bergotong royong membangun pagar masjid secara swadaya menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Tanpa aba-aba resmi dan tanpa jadwal kerja yang mengikat, para pemuda ini datang satu per satu usai menyelesaikan aktivitas harian mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada yang mengayunkan sekop, mendorong gerobak berisi pasir, hingga merapikan tumpukan batu yang perlahan disusun menjadi pagar masjid.
Lelah memang tak terhindarkan. Namun tak satu pun wajah yang menunjukkan keluhan. Sesekali, tawa kecil pecah di antara bunyi alat kerja, seolah menjadi penanda bahwa kerja berat ini dijalani dengan hati yang ringan dan penuh keikhlasan.
Pembangunan pagar Masjid Al-Ikhlas dilakukan dengan dana seadanya, hasil patungan para pemuda serta sumbangan sukarela masyarakat.
Material dikumpulkan secara perlahan dan dikerjakan bertahap, menyesuaikan kemampuan yang ada.
“Yang penting niatnya dulu,” ujar Rain, salah satu pemuda Masjid Al-Ikhlas, sembari terus bekerja.
“Kalau dana ada sedikit, kita kerja. Kalau tenaga masih kuat, kita lanjut. Ini untuk masjid, jadi kami ikhlas,” sambungnya.
Rain menuturkan, inisiatif membangun pagar masjid muncul dari keinginan bersama untuk memperindah dan menjaga masjid menjelang Ramadan.
Menurutnya, masjid bukan sekadar tempat salat, tetapi juga ruang kebersamaan yang harus dirawat dan dijaga bersama.
Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan masyarakat dan para pemuda yang terus mengalir.
“Alhamdulillah, pelan-pelan niat baik ini mulai terwujud. Saya sangat bersyukur karena banyak masyarakat dan pemuda yang mendukung. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Pak Mantri Budi dan Imam Masjid, Ustadz Pei, yang selalu mensupport kami dari belakang,” ungkap Rain.
Seiring malam berjalan, beberapa warga tampak berdatangan ke lokasi pembangunan. Ada yang menyumbang pasir, besi, dan semen.
Ada pula yang menyerahkan uang sekadarnya. Semua bantuan diterima dengan sederhana, tanpa seremoni, cukup dengan senyum dan ucapan terima kasih.
Sebagai bentuk transparansi, setiap bantuan yang masuk diumumkan oleh imam masjid kepada masyarakat setiap hari Jumat.
Sementara itu, Imam Masjid Al-Ikhlas, Usman Ibrahim yang akrab disapa Ustadz Pei, mengaku bangga dan bersyukur melihat semangat gotong royong para pemuda dan masyarakat.
“Saya bangga dan bersyukur melihat semangat masyarakat dan anak-anak muda ini. Mereka gotong royong bekerja sampai larut malam,” ucap Ustadz Pei.
Menurutnya, semangat gotong royong merupakan modal besar yang dimiliki pemuda Desa Buti. Ia berharap, apa yang dilakukan para pemuda Masjid Al-Ikhlas dapat menjadi contoh positif, khususnya bagi generasi muda di desa.
Pembangunan pagar masjid memang belum sepenuhnya rampung. Namun bagi para pemuda, proses jauh lebih bermakna daripada hasil semata.
Setiap ayunan sekop dan setiap batu yang disusun adalah bentuk ibadah serta wujud cinta kepada masjid.
Menyambut Ramadan, kata Ustadz Pei, tak selalu harus dengan hiasan megah atau anggaran besar.
Niat tulus, tenaga yang dibagi bersama, serta keikhlasan justru menjadi nilai utama yang bernilai besar di hadapan Allah SWT.
Ia pun berharap pembangunan pagar Masjid Al-Ikhlas dapat rampung sebelum Ramadan tiba.
“Insyaallah niat baik ini akan dimudahkan oleh Allah. Alhamdulillah, satu per satu bahan mulai terkumpul,” pungkasnya.








