GORONTALO, ZONAAKTUAL.ID – Wisata hiu paus di perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menjadi sorotan hangat.
Meski dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Indonesia, muncul berbagai kontroversi yang kini memancing perhatian publik dan para pegiat konservasi.
Salah satu isu paling mencolok adalah praktik pemberian makan kepada hiu paus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivitas ini sudah berlangsung sejak 2016, ketika mamalia laut raksasa itu pertama kali muncul di sekitar perairan Botubarani.
Sejumlah pelaku wisata, khususnya nelayan, membuang limbah kulit dan kepala udang ke laut untuk menarik kehadiran hiu paus, agar tetap muncul dan bisa dilihat wisatawan.
Meski awalnya dianggap sebagai bentuk “pemanggilan alami”, kini cara itu dikritik keras oleh para ahli.
Pemberian makan kepada satwa liar, terutama secara rutin dan terencana, berisiko tinggi mengganggu perilaku alaminya.
Hiu paus yang seharusnya bermigrasi dan mencari makan sendiri di alam bebas justru menjadi tergantung pada manusia, berhenti bermigrasi, dan kehilangan naluri alami untuk mencari makanan.
Lebih jauh lagi, pola ini berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem.
Satwa yang terlalu terbiasa dengan kehadiran manusia bisa menjadi rentan terhadap cedera, seperti luka akibat baling-baling perahu, atau mengalami stres karena interaksi berlebihan.
Beberapa hiu paus bahkan terpantau mengalami luka fisik di tubuhnya akibat gesekan atau benturan dengan kapal wisata.
Kritik terhadap praktik ini juga banyak muncul dari komunitas internasional.
Di berbagai tempat lain seperti Filipina, Thailand, hingga Meksiko, praktik serupa telah dilarang atau dibatasi ketat karena terbukti menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.
Di Gorontalo, kekhawatiran itu bukan tanpa dasar.
Menurut data KompasTV, populasi hiu paus yang muncul di Botubarani mengalami penurunan signifikan.
Jika sebelumnya bisa mencapai 16 ekor, kini hanya 2 hingga 3 ekor yang muncul dalam satu waktu.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ekosistem mulai mengalami tekanan.
Menanggapi hal ini, berbagai upaya telah dilakukan.
Pada April 2025, tim peneliti dari IPB dan WWF Indonesia memasang alat pelacak satelit (satellite tagging) pada dua ekor hiu paus.
Tujuannya adalah memantau pergerakan mereka, memahami pola migrasi, serta menyediakan data ilmiah untuk menyusun strategi konservasi berbasis ekosistem.
Pemerintah daerah bersama masyarakat dan mitra konservasi juga telah menetapkan sejumlah regulasi ketat.
Di antaranya adalah larangan menyentuh hiu paus, pembatasan jumlah kapal wisata, batas waktu interaksi, dan larangan pemberian makan.
Namun, di lapangan, aturan ini masih sering diabaikan demi kepuasan wisatawan dan keuntungan ekonomi sesaat.
Meski demikian, wisata hiu paus Gorontalo tetap menyimpan potensi luar biasa.
Letaknya yang hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai membuatnya unik dibandingkan destinasi serupa di Indonesia.
Musim kemunculan hiu paus biasanya terjadi pada April hingga Juli.
Para pemerhati lingkungan berharap, pengelolaan wisata ini harus mengedepankan prinsip konservasi.
Karena tanpa pengawasan dan regulasi yang ketat, aktivitas wisata yang tampak indah di permukaan bisa menjadi bumerang bagi kelestarian satwa dan ekosistem laut jangka panjang.








