Zonaaktual.id, Bogor – Dalam sebuah pertemuan tertutup yang berlangsung selama empat jam di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Presiden terpilih Prabowo Subianto meladeni pertanyaan tujuh jurnalis senior dari berbagai media nasional.
Suasana yang hangat dan penuh keakraban berubah menjadi sesi tanya-jawab yang tajam dan mendalam seputar isu-isu strategis nasional.
Pertemuan yang berlangsung Minggu (6/4/2025) itu menjadi momen langka. Tak hanya karena durasinya yang panjang, tapi juga karena keterbukaan Prabowo menjawab berbagai pertanyaan sensitif—mulai dari revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI), hingga isu ekonomi seperti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di awal pertemuan, Prabowo menyambut para jurnalis dengan penuh senyum. Ia bahkan menyuguhkan makanan khas rumahan, memperlihatkan sisi personal seorang pemimpin yang tengah mempersiapkan diri menghadapi masa jabatannya sebagai kepala negara.
Salah satu isu yang paling disorot adalah revisi UU TNI. Banyak pihak khawatir bahwa perubahan regulasi tersebut akan memperbesar peran militer dalam pemerintahan sipil.
Namun, Prabowo tegas menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan intervensi apapun dalam pembahasan revisi undang-undang tersebut.
Menurut Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin yang turut hadir dalam pertemuan itu, Presiden tidak pernah mengarahkan atau meminta perubahan isi dari UU TNI.
“Semua prosesnya berjalan sesuai mekanisme antara DPR dan pemerintah,” tegas Sjafrie.
Prabowo sendiri mengatakan bahwa sebagai pemimpin, ia menghormati proses demokrasi dan pembagian kekuasaan.
Ia menilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan militer dan sipil demi stabilitas bangsa dalam jangka panjang.
Isu lain yang juga menjadi sorotan adalah program makan bergizi gratis yang menjadi janji kampanyenya.
Program ini sempat menjadi perbincangan hangat di pasar modal karena diduga menjadi salah satu penyebab anjloknya IHSG.
Namun, dengan nada santai namun tegas, Prabowo menjawab, “Saya ditakut-takuti karena program itu bisa bikin IHSG turun. Tapi saya tidak punya saham. Yang saya pikirkan adalah rakyat kecil di desa yang tidak tahu apa itu IHSG.”
Pernyataan itu sontak memancing tawa kecil dari para jurnalis, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa kebijakan populis Prabowo bertumpu pada kepentingan akar rumput.
Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus menyentuh langsung masyarakat bawah, bukan hanya menguntungkan investor.
Ia juga menambahkan bahwa program makan bergizi bukan sekadar janji politik, tetapi bentuk kepedulian terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
“Kalau anak-anak kita sehat dan cerdas, Indonesia pasti lebih maju,” ujarnya optimis.
Dalam wawancara itu, Prabowo juga menyinggung pentingnya persatuan nasional dan peran media sebagai pilar demokrasi.
Ia berharap media tetap menjadi mitra kritis yang objektif, bukan alat propaganda satu arah.
“Saya terbuka terhadap kritik. Tapi kritik yang membangun. Bukan hanya menyalahkan, tapi juga memberikan solusi,” ucapnya sambil menatap serius para jurnalis.
Selama empat jam, tak ada pertanyaan yang dihindari. Dari isu politik, ekonomi, hingga pertahanan dan keamanan, semua dijawab lugas.
Bahkan, di beberapa bagian, Prabowo tampak emosional ketika membicarakan masa depan Indonesia.
Pertemuan itu pun ditutup dengan penuh keakraban. Para jurnalis berfoto bersama Presiden, dan sebagian bahkan meminta tanda tangan di buku atau catatan mereka.
Momen ini menjadi bukti bahwa hubungan antara pemimpin dan pers tetap bisa terjalin dalam bingkai saling menghormati.
Wawancara empat jam tersebut menjadi semacam “soft opening” bagi publik untuk melihat gaya kepemimpinan Prabowo: blak-blakan, penuh semangat nasionalisme, namun juga mengedepankan pendekatan humanis.
Tak berlebihan jika pertemuan ini disebut sebagai langkah awal Prabowo membangun komunikasi strategis, tak hanya dengan elite politik, tetapi juga dengan media sebagai penyambung lidah rakyat.(*)








