Zonaaktual.id – Aktivitas tambang Galian C di perbukitan Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, kian menuai sorotan.
Dugaan kerusakan lingkungan dan gangguan terhadap ekosistem laut membuat Ketua Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, angkat bicara.
Politisi vokal tersebut menyatakan kesiapannya turun langsung ke lokasi tambang untuk mengecek fakta di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengaku sudah menerima banyak keluhan dari warga dan laporan dari pegiat lingkungan yang khawatir akan dampak jangka panjang penambangan tersebut.
“Saya sudah mendengar banyak keluhan dari warga dan laporan dari media. Tapi saya tidak ingin hanya mengambil kesimpulan dari informasi sepihak. Saya akan turun langsung ke lokasi untuk melihat sendiri keberadaan dari tambang Galian C yang dimaksud,” tegas Mikson saat diwawancarai, Kamis (7/8/2025).
Salah satu kekhawatiran utama yang disorot Mikson adalah potensi pencemaran laut yang mengganggu habitat hiu paus ikon wisata andalan Gorontalo.
Air laut yang keruh akibat sedimen tambang disebut memicu hilangnya kemunculan hiu paus selama beberapa hari terakhir.
“Kalau air laut terus tercemar, bukan tidak mungkin hiu-hiu itu tidak akan kembali. Ini sinyal kuat bahwa ada gangguan pada habitatnya,” ujar Mikson prihatin.
Menurutnya, wisata hiu paus bukan sekadar daya tarik wisata, tetapi juga sumber ekonomi masyarakat.
Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, maka efeknya bisa merusak mata pencaharian warga.
“Ini bukan sekadar soal lingkungan. Ini juga soal ekonomi rakyat. Kalau wisatawan berhenti datang karena lingkungan rusak, siapa yang rugi? Masyarakat. Karena itu saya tidak main-main. Ini harus dihentikan jika terbukti merusak,” tandasnya.
Mikson juga menyoroti kemungkinan adanya logam berat dalam pencemaran air laut yang dapat merusak rantai makanan.
Ia meminta agar dilakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap tambang Galian C di wilayah Botubarani.
“Saya minta semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten Bone Bolango, lebih tegas. Jangan hanya diam atau sekadar monitoring tanpa tindakan. Kita harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat,” tegasnya.
Pernyataan Mikson langsung mendapat sambutan positif dari warga.
Salah satunya, Melki Rahman (47), warga Botubarani yang aktif memantau kondisi pesisir, mendesak agar DPRD segera turun tangan.
“Sudah banyak keluhan, semoga ini cepat ditanggapi. Jika tidak, kondisi ini akan sangat berdampak pada ekonomi warga dan sektor wisata Gorontalo,” ucapnya.
Kini semua mata tertuju pada langkah nyata DPRD dan pemerintah daerah. Akankah tambang yang dituding mencemari laut itu dihentikan? Ataukah kerusakan akan dibiarkan terus terjadi hingga hiu paus tak lagi datang?








