Zonaaktual.id, Pohuwato – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di hulu sungai Pohuwato semakin menimbulkan dampak serius.
Bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga merusak lahan pertanian dan membuat petani di Desa Duhiadaa terus menanggung kerugian.
Sawah yang dulu hijau kini terbengkalai, sementara aliran air irigasi berubah keruh bercampur lumpur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, gagal panen berulang menjadi kenyataan pahit yang harus diterima para petani.
Kepala Dinas Pertanian Pohuwato, Kamri Alwi, mengakui bahwa kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Ia menegaskan, kerusakan yang ditimbulkan PETI bukan hanya merugikan ekonomi, tetapi juga mengancam ketahanan pangan daerah.
“PETI ini sudah jelas merusak. Selama tidak dihentikan, petani akan terus gagal panen dan program yang kita siapkan berisiko sia-sia,” tegas Kamri kepada Zonaaktual.id.
Kamri menjelaskan, banyak bibit yang ditanam akhirnya membusuk akibat air bercampur lumpur.
Hasil panen pun tidak layak jual. Bahkan sebagian besar petani terpaksa menghentikan aktivitas mereka karena biaya tanam jauh lebih besar dibanding hasil panen.
Untuk mengantisipasi kerugian yang semakin parah, pemerintah daerah saat ini menyiapkan sejumlah langkah darurat.
Salah satunya dengan membuka skema pinjaman modal bekerja sama dengan Bank Sulut.
Melalui skema tersebut, setiap petani bisa mendapatkan pinjaman modal antara Rp5 juta hingga Rp7,5 juta.
Diharapkan dana ini bisa digunakan untuk memulai kembali aktivitas pertanian yang sempat terhenti.
“Sekarang sementara dikoordinasikan dengan Bank Sulut untuk diupayakan ada bantuan pinjaman modal dalam rangka membantu petani yang gagal agar mampu kembali melakukan bertani,” terang Kamri.
Menurutnya, Bupati Pohuwato bersama pihak Bank Sulut juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU).
Saat ini tinggal menunggu rampungnya Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditargetkan selesai minggu depan.
Tidak hanya modal, pemerintah daerah juga tengah menyiapkan program perlindungan lewat asuransi pertanian.
Program ini dirancang agar petani bisa mengklaim kerugian ketika lahan mereka gagal panen.
“Realisasinya tahun depan, tapi kita persiapkan dari sekarang,” ujar Kamri.
Meski begitu, ia menegaskan kembali bahwa semua program bantuan tidak akan efektif selama aktivitas PETI masih berlangsung di hulu sungai.
Pencemaran akibat tambang liar itu disebut sebagai akar masalah yang wajib dihentikan.
“Sekeras apa pun usaha kita, kalau PETI tetap jalan, petani tetap menderita,” tandasnya.
Selain pinjaman modal dan asuransi, Dinas Pertanian juga menyiapkan baperstok atau bantuan benih cadangan.
Dengan adanya baperstok, pemerintah bisa segera menyalurkan benih saat petani mengalami kegagalan tanam.
“Baperstok itu ketika gagal, mereka punya stok benih, kita bisa langsung bantukan,” tutup Kamri.








