Zonaaktual.id, Boalemo – Desa Potanga, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo kembali dilanda banjir besar pada Kamis (21/8/2025) kemarin.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi menyebabkan air sungai meluap hingga merendam permukiman warga.
Fenomena banjir ini bukan kali pertama terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa Potanga sudah menjadi langganan banjir sejak beberapa tahun terakhir.
Kondisi tanggul yang rendah dan rapuh membuat air sungai dengan mudah melintasi pemukiman dan lahan pertanian.
Warga menyebut, permasalahan tanggul yang tidak pernah diperbaiki itulah yang menjadi faktor utama bencana ini terus berulang.
Akibat banjir kali ini, puluhan rumah warga terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga hampir satu meter.
Tidak hanya rumah, banjir juga merendam tempat ibadah, fasilitas olahraga, serta lahan pertanian milik masyarakat yang menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Lebih parah lagi, Jalan Trans Sulawesi yang melintasi desa ikut tergenang, sehingga mengganggu aktivitas transportasi antarwilayah.
Kendaraan roda dua sulit melintas, sementara kendaraan roda empat terpaksa berjalan pelan karena genangan cukup tinggi.
Kondisi ini memicu kerugian ekonomi, karena arus distribusi barang dan aktivitas masyarakat terganggu.
Iqbal Yusuf, tokoh pemuda Desa Potanga, mengaku prihatin dengan kondisi yang tak kunjung mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
Ia menegaskan bahwa masyarakat sudah sangat lelah menghadapi bencana banjir yang selalu datang setiap musim hujan.
“Sudah bertahun-tahun kami menyampaikan keluhan, tapi sampai hari ini belum ada tindakan nyata untuk memperbaiki tanggul. Akibatnya, setiap kali hujan deras, warga selalu was-was. Rumah, kebun, bahkan jalan utama ikut terendam. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, lama-kelamaan Desa Potanga sudah tidak layak huni,” ujar Iqbal dengan nada tegas.
Iqbal menambahkan, banjir tidak hanya merusak fisik bangunan dan fasilitas, tetapi juga membawa dampak psikologis bagi masyarakat.
Rasa cemas dan trauma semakin dirasakan, terutama oleh anak-anak dan orang tua yang harus berulang kali mengungsi setiap musim hujan.
“Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun langsung melihat kondisi di lapangan. Jangan hanya menunggu laporan di atas kertas. Masyarakat butuh solusi nyata, bukan janji. Perbaikan tanggul adalah hal mendesak demi keselamatan kami di sini,” tambahnya.
Situasi darurat banjir di Desa Potanga menjadi pengingat bahwa persoalan infrastruktur yang diabaikan terlalu lama bisa berimbas besar pada penderitaan masyarakat.
Kerusakan lahan pertanian mengancam ketahanan pangan lokal, sementara terputusnya akses transportasi dapat menekan roda perekonomian daerah.
Masyarakat kini berharap agar peristiwa ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk segera bertindak.
Mereka menegaskan bahwa Desa Potanga tidak boleh dibiarkan terjebak dalam lingkaran bencana yang sama setiap tahun.








